Cianjur//posbidikberita.id-Tahun 2025 menjadi babak bersejarah bagi pertanian Indonesia. Pemerintah memproyeksikan produksi beras nasional mencapai 34,3 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah bangsa. Sebagai perbandingan, tahun 2024 “hanya” mencatat sekitar 30,1 juta ton — artinya dalam satu tahun saja terjadi lonjakan luar biasa lebih dari 4 juta ton!
Faktor Pendorong Utama
Peningkatan fantastis ini bukan kebetulan. Sejumlah langkah strategis telah mendorong pertumbuhan produksi, di antaranya:
Teknologi Pertanian Modern: Adopsi smart farming dan precision farming membuat efisiensi dan hasil panen meningkat pesat.
Investasi Riset & Benih Unggul: Minimal 60% lahan kini menggunakan varietas unggul dengan produktivitas tinggi.
Rehabilitasi Irigasi & Perluasan Lahan: Pemerintah aktif memperbaiki jaringan irigasi dan memperluas areal tanam di berbagai daerah.
Kebijakan Pro-Petani: Termasuk penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500/kg dan penghapusan kebijakan rafaksi.
Gabungan kebijakan dan inovasi ini membuat pemerintah optimistis bahwa musim tanam 2025/2026 akan menembus 35,6 juta ton — naik 4,5% dari musim sebelumnya.
Antisipasi Tantangan Iklim
Meski ancaman El Nino dan cuaca ekstrem masih membayangi, pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi:
Pompanisasi untuk menjaga suplai air,
Optimalisasi lahan rawa,
Pencetakan sawah baru,
Dan penggunaan varietas padi tahan kekeringan seperti Inpago 8-10, Gajah Mungkur, Batutegi, dan Situ Patenggang.
Dengan strategi tersebut, produksi beras Indonesia diharapkan tetap stabil meski iklim tak bersahabat, dan target swasembada beras 2027 semakin realistis.
Reformasi & Harapan Baru
Keberhasilan ini juga tak lepas dari reformasi sektor pertanian yang digulirkan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Deregulasi 145 aturan yang dianggap tidak efisien, intensifikasi lahan, serta distribusi pupuk yang lebih cepat dan tepat sasaran menjadi fondasi kuat peningkatan produksi.
Indikator kesejahteraan petani juga naik signifikan. Nilai Tukar Petani (NTP) melonjak ke 124,36, menandakan peningkatan daya beli dan kesejahteraan.
Namun, tantangan tetap ada: ketergantungan terhadap faktor alam, perubahan iklim global, dan dinamika harga pangan dunia.
Catatan Kritis
Pertanyaannya kini: mampukah Indonesia mempertahankan rekor ini di tahun-tahun mendatang?
Kuncinya ada pada konsistensi kebijakan, keberlanjutan inovasi, dan peningkatan kesejahteraan petani. Jika ketiganya dijaga, maka mimpi besar Indonesia sebagai lumbung pangan dunia bukan lagi sekadar wacana, tapi kenyataan yang semakin dekat.

