Cianjur//posbidikberita.id– Program Community Development bertajuk EQuity kembali digelar sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat dengan fokus pada penguatan kapasitas guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Program ini menjadi ruang kolaborasi lintas perguruan tinggi dan organisasi profesi, yang melibatkan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Universitas Surya Kencana Cianjur, serta Ikatan Guru Olahraga Nasional (Igornas) Kabupaten Cianjur. Sabtu (24/1/2026).
Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru PJOK agar mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berdampak pada kebugaran fisik, tetapi juga mendukung kesehatan mental peserta didik, khususnya di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap bencana alam.
Sejumlah akademisi dari dalam dan luar negeri turut ambil bagian sebagai pemateri dalam kegiatan ini. Di antaranya Dr. Gugum Gumelar, FR., M.Si (Dosen UNJ), Dr. Ervan Kastrena, M.Pd (Dosen Universitas Surya Kencana Cianjur), serta Muh. Zulqarnain Mohd. Nasir, M.Sc., Ph.D (Dosen Universiti Teknologi MARA Malaysia). Kehadiran para pakar tersebut diharapkan mampu memperkaya wawasan guru PJOK, sekaligus memberikan perspektif baru terkait pendekatan pembelajaran pendidikan jasmani yang adaptif dan berorientasi pada kesejahteraan peserta didik.
Ketua Pelaksana Community Development Program EQuity, Dr. Yasep Setiakarnawijaya, M.Kes, menjelaskan bahwa SMP Negeri 3 Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, dipilih sebagai lokasi kegiatan dengan pertimbangan khusus. Menurutnya, setiap program pengabdian kepada masyarakat harus memberikan dampak nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat sasaran.
“Kenapa Community Development Program EQuity ini dilaksanakan, karena harus berdampak dan dirasakan langsung oleh masyarakat melalui guru PJOK yang nantinya akan diterapkan kepada siswa-siswi tingkat SMP. Kami memilih SMP Negeri 3 Sukaresmi karena beberapa faktor, seperti wilayahnya yang rawan bencana, kondisi struktur tanah, akses jalan yang rawan longsor, dan faktor lainnya,” ujar Dr. Yasep kepada awak media di sela-sela kegiatan.
Ia menambahkan, wilayah Sukaresmi merupakan salah satu daerah yang terdampak cukup parah oleh gempa bumi besar yang terjadi pada tahun 2022 lalu. Meski peristiwa tersebut telah berlalu, dampak psikologisnya dinilai masih dirasakan hingga saat ini, terutama oleh anak-anak usia sekolah.
“Meskipun peristiwa gempa tersebut sudah cukup lama, dampaknya masih ada, terutama pada anak-anak sekolah yang secara tidak sadar menyimpan trauma. Selain itu, kesadaran masyarakat, termasuk peserta didik, terhadap siklus bencana juga masih perlu terus diperkuat,” lanjutnya.
Melalui Community Development Program EQuity, Dr. Yasep berharap para guru PJOK dapat semakin berdaya dalam menyajikan aktivitas fisik yang tepat, aman, dan menyenangkan selama proses pembelajaran. Aktivitas tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kebugaran jasmani siswa, tetapi juga berperan sebagai media pemulihan psikologis pascabencana.
“Dalam program ini, kami memberikan materi secara langsung kepada guru PJOK agar mampu menghadirkan aktivitas fisik yang menyenangkan bagi siswa. Tujuannya untuk membantu mengurangi bahkan menghilangkan trauma yang tersimpan di alam bawah sadar akibat bencana. Program ini difokuskan untuk wilayah Subrayon 5 Kabupaten Cianjur, termasuk SMP Negeri 3 Sukaresmi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Yasep memaparkan bahwa Community Development Program EQuity dibagi ke dalam tiga kategori utama. Pertama, penguatan pemahaman guru PJOK terkait personal well-being atau kesejahteraan pribadi. Kedua, pengembangan aktivitas pembelajaran fisik yang menyenangkan dan inklusif. Ketiga, peningkatan kapasitas guru dalam mengukur kebugaran dan kesehatan fisik peserta didik secara tepat.
Dalam pelaksanaannya, tim pelaksana juga melibatkan siswa-siswi sebagai sumber data awal untuk mengetahui kondisi kebugaran fisik anak-anak di SMP Negeri 3 Sukaresmi. Data tersebut akan menjadi dasar evaluasi keberhasilan program.
“Nantinya, dalam dua hingga tiga bulan ke depan, kami akan mengambil data akhir untuk melihat sejauh mana dampak dari penerapan program ini oleh guru PJOK terhadap murid-muridnya,” tutupnya.
Melalui program ini, diharapkan sinergi antara akademisi, praktisi pendidikan, dan masyarakat dapat terus terjalin secara berkelanjutan. Program EQuity menjadi langkah konkret dalam membangun ketahanan fisik dan mental generasi muda, khususnya di wilayah rawan bencana, melalui peran strategis guru PJOK sebagai garda terdepan pendidikan kesehatan di sekolah.
Ben

