Batu Virus Kembali Naik Daun Di Buru para Kolektor

Cianjur//posbidikberita.id-Demam batu cincin tampaknya belum benar-benar mereda. Kini, “batu virus” kembali menjadi primadona di kalangan pecinta batu akik. Permintaan yang meningkat membuat para pedagang, termasuk Agus Sudarsono atau yang akrab disapa Abah Bagas, kebanjiran pembeli.

Abah Bagas, pedagang batu cincin yang sudah tiga tahun berjualan di samping Stasiun Ciranjang, Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, mengaku tren batu virus tengah melonjak tajam.

“Sekarang yang paling laku itu batu virus. Penggemarnya kebanyakan pria, dan mereka datang dari berbagai daerah seperti Bandung dan Sukabumi,” ujar Abah Bagas saat ditemui, Senin (27/10/2025).

Menurutnya, harga batu virus bervariasi tergantung ukuran dan kualitas. Batu ukuran kecil bisa dihargai sekitar Rp50.000, namun nilai itu bisa melonjak bila bahan pembungkus atau serat batunya tergolong langka dan indah.

“Dua bulan lalu sempat turun, tapi sekarang mulai naik lagi. Harga batu virus mengalami kenaikan karena banyak dicari kolektor,” tambahnya.

Selain batu virus, jenis lain yang juga banyak diburu adalah batu Kalimaya, Bacan, dan Garut. Namun, Abah Bagas menyebut, batu Garut asli kini semakin sulit ditemukan karena banyak diborong oleh pembeli dari luar negeri.

“Yang di sini kebanyakan topaz. Tapi yang cari batu virus tetap paling ramai,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih, Abah Bagas mengaku tetap bersyukur karena pendapatannya masih stabil.

“Kalau lagi ramai, sehari bisa dapat Rp300.000. Lumayan buat kebutuhan harian,” tuturnya.

 

Pesona Batu Virus di Mata Kolektor
Salah satu penggemar batu virus, Irvan, warga Kampung Pakemitan, Ciranjang, mengungkapkan alasan dirinya jatuh cinta pada batu yang kini tengah naik daun tersebut.

“Batu virus itu eksotis dan unik. Dari serat dan tampilannya saja sudah kelihatan indah,” ujarnya.

Menurut Irvan, batu virus sudah dikenal sejak zaman dahulu, bahkan disebut-sebut telah ada sejak masa para nabi. Kini, jenis batu virus Persia dan Mesir menjadi incaran utama para kolektor karena corak dan urat emasnya yang khas.

“Setiap batu virus itu punya motif berbeda. Tidak ada yang benar-benar sama, itu yang membuatnya istimewa,” tutup Irvan.

Fenomena kebangkitan batu virus ini menunjukkan bahwa pesona batu akik belum benar-benar pudar di kalangan masyarakat. Dari pinggir stasiun Ciranjang hingga pasar internasional, kilau batu virus terus memikat hati para kolektor yang mencari keindahan dalam setiap serat alami batu tersebut.

 

Ben

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *