Cianjur | posbidikberita– Langkah progresif dilakukan TPS3R Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur. Dengan mengusung slogan penuh makna, “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita”, program pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) ini menjadi contoh nyata gerakan lingkungan dari desa untuk masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Ketua TPS3R Desa Bobojong, Asep Dian, memaparkan pada Jumat (27/2/2026), bahwa gerakan ini bukan sekadar mengelola sampah, tetapi membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan sejak dari rumah.
“Kami memulai dari edukasi. Kami ingin masyarakat sadar bahwa sekecil apa pun sampah, jika dibuang sembarangan, dampaknya bisa besar bahkan menjadi bencana. Karena itu, jargon kami adalah ‘Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita’,” ujarnya.
Edukasi Door to Door, Bangun Kesadaran dari Akar Rumput
Sejak berjalan sekitar lima bulan terakhir, TPS3R Desa Bobojong aktif melakukan sosialisasi secara langsung kepada warga. Metode door to door dipilih agar pesan pengelolaan sampah benar-benar dipahami dan diterapkan.
Tim TPS3R yang beranggotakan delapan orang—dengan enam anggota aktif—secara konsisten mengajak masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya. Pendekatan ini dilakukan secara bertahap, mengingat perubahan pola pikir dan kebiasaan tidak bisa terjadi secara instan.

Menurut Asep, keberadaan sampah memang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Namun, yang menjadi persoalan adalah bagaimana pengelolaannya. Jika tidak ditangani dengan benar, sampah bisa memicu banjir, pencemaran, hingga gangguan kesehatan.
Sampah Jadi Sumber Ketahanan Pangan
Menariknya, TPS3R Desa Bobojong tidak hanya fokus pada pengurangan residu ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga mengembangkan nilai ekonomi dari sampah.
Sampah organik seperti sisa sayuran dan makanan rumah tangga diolah menjadi pakan ternak. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini dimanfaatkan untuk pakan ayam kampung dan unggas lainnya, termasuk entok.
Program ini bahkan bersinggungan dengan upaya ketahanan pangan desa. Tanpa modal besar, TPS3R mampu memanfaatkan limbah organik menjadi pakan alternatif, sehingga mengurangi biaya pembelian pakan ternak.
“Ini bagian dari inovasi kami. Tanpa harus membeli pakan, kami memanfaatkan limbah organik yang ada. Selain mengurangi sampah, juga membantu sektor peternakan warga,” jelas Asep.
Pundi-Pundi Ekonomi dari Sampah Anorganik
Tak hanya sampah organik, TPS3R juga memilah sampah anorganik seperti botol plastik, kemasan air mineral, dan material lainnya yang memiliki nilai jual. Sampah tersebut dikumpulkan dan dijual kembali, hasilnya digunakan sebagai insentif bagi para anggota yang bekerja.
Meskipun sebagian besar anggota bekerja secara sosial dan gotong royong, sistem insentif tetap diterapkan bagi dua hingga tiga orang yang bertugas setiap hari. Hal ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam menjaga kebersihan lingkungan desa.
Residunya sendiri tetap dipisahkan dan dikirim ke TPA, sehingga volume sampah yang dibuang jauh lebih berkurang dibanding sebelumnya.
Siap Kembangkan Budidaya Maggot
Tak berhenti sampai di situ, TPS3R Desa Bobojong juga menyiapkan pilot project baru berupa budidaya maggot pasca Lebaran mendatang. Maggot atau larva lalat Black Soldier Fly dikenal efektif mengurai sampah organik sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai pakan ternak.
Program ini diharapkan menjadi siklus pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan—dari sampah organik menjadi maggot, lalu menjadi pakan ternak, dan mendukung produktivitas warga.
“Kami ingin terus berkembang. Setelah Lebaran, kami akan coba budidaya maggot sebagai bagian dari siklus pengolahan sampah yang lebih maksimal,” ungkapnya.
Harapan untuk Masyarakat
Sebagai Ketua TPS3R, Asep Dian mengajak seluruh masyarakat Desa Bobojong untuk bersama-sama membangun budaya sadar sampah. Menurutnya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi warga.
Ia menegaskan bahwa sampah berpotensi menjadi bencana jika tidak dikelola dengan baik. Namun sebaliknya, sampah juga bisa menjadi berkah dan sumber ekonomi apabila ditangani secara benar.
“Harapan kami, masyarakat bisa bekerja sama dengan TPS3R. Kesadaran itu yang paling utama. Kalau kita jaga alam, maka alam pun akan menjaga kita,” pungkasnya.
Gerakan TPS3R Desa Bobojong menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari desa. Dengan semangat gotong royong dan inovasi tanpa henti, Bobojong menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi untuk masa depan yang lebih bersih, sehat, dan sejahtera
Ben

