Cianjur//posbidikberita.id– Program yang digadang-gadang sebagai solusi pemenuhan gizi anak justru berubah menjadi mimpi buruk.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menghadirkan asupan sehat bagi siswa, malah memunculkan pemandangan menjijikkan: belatung hidup ditemukan dalam menu makanan yang dibagikan kepada anak-anak sekolah dasar.
Peristiwa ini terjadi di SDN Cisarandi 1, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, pada Selasa (7/4/2026)
Menu yang disajikan saat itu terbilang sederhana—nasi putih, tumis kacang, campuran jagung dan wortel, serta telur ayam goreng. Namun siapa sangka, di balik lauk yang tampak biasa itu, tersembunyi ancaman yang membuat siapa pun kehilangan selera makan seketika.
Seorang sumber dari kalangan orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan dengan nada geram. Ia bahkan menunjukkan langsung kondisi makanan yang diterima anaknya. Bau tak sedap menyeruak, dan yang lebih mengejutkan, belatung terlihat keluar dari telur goreng tersebut.
“Coba lihat ini. Selain baunya sudah tidak enak, belatungnya juga keluar. Ini bukan sekadar tidak layak, ini menjijikkan,” ujarnya dengan nada kecewa bercampur marah.
Kejadian ini sontak memicu reaksi keras dari para orang tua dan wali murid. Didan, salah satu wali murid SDN Cisarandi 1, membenarkan adanya temuan tersebut. Meski ia menyebut jumlahnya tidak besar, dampak psikologis yang ditimbulkan terhadap anak-anak tidak bisa dianggap sepele.
“Kalau dipersentasekan mungkin kecil, sekitar 5 persen. Tapi ini anak-anak, Pak. Begitu lihat belatung masih hidup di makanan, mereka langsung takut dan jijik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Didan menjelaskan bahwa makanan yang terindikasi mengandung belatung langsung dipisahkan sebagai bukti laporan. Namun dampaknya sudah terlanjur meluas—hampir seluruh siswa memilih tidak menyentuh makanan yang dibagikan, meskipun tidak semua paket terkontaminasi.
“Yang ada belatungnya langsung dipisahkan. Tapi anak-anak sudah terlanjur trauma. Hampir semua tidak mau makan, meski yang lain sebenarnya mungkin aman,” tambahnya.
Bayangkan, program yang bertujuan meningkatkan gizi justru berakhir dengan makanan terbuang percuma. Lebih ironis lagi, rasa percaya anak-anak terhadap makanan dari program pemerintah bisa saja runtuh hanya karena kelalaian yang sebenarnya bisa dicegah.
Sementara itu, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat terkesan berkelit. Asisten dari SPPG Cisarandi 2 menyatakan bahwa menu yang disalurkan pada hari tersebut tidak termasuk telur goreng seperti yang disebutkan dalam laporan.
“Dari tim memasak sampai distribusi, kami pastikan tidak ada telur ceplok,” ujarnya kepada wartawan.
Pernyataan ini justru menimbulkan tanda tanya besar. Jika benar tidak ada telur dalam menu resmi, lalu dari mana asal telur berbelatung yang ditemukan siswa? Apakah terjadi kesalahan distribusi, kelalaian dalam pengawasan, atau justru ada pihak yang mencoba lepas tangan?
Insiden ini bukan sekadar soal makanan basi atau kualitas yang menurun. Ini adalah alarm keras bagi sistem pengawasan program publik yang menyangkut kesehatan anak-anak.
Program MBG seharusnya menjadi simbol kepedulian terhadap generasi masa depan, bukan malah menjadi sumber trauma dan ketakutan.
Para orang tua kini menuntut transparansi dan evaluasi menyeluruh. Mereka tidak hanya ingin penjelasan, tetapi juga jaminan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang. Sebab, kepercayaan yang sudah tercoreng tidak mudah untuk dipulihkan.
Jika program sekelas MBG saja bisa kecolongan hingga makanan berbelatung sampai ke tangan siswa, publik patut bertanya: di mana letak pengawasan? Siapa yang bertanggung jawab? Dan yang paling penting, apakah keselamatan anak-anak benar-benar menjadi prioritas, atau sekadar jargon di atas kertas?
Kasus ini menjadi tamparan keras—bukan hanya bagi pelaksana di lapangan, tetapi juga bagi seluruh pihak yang terlibat dalam rantai distribusi program.
Sebab dalam urusan makanan untuk anak-anak, tidak ada ruang untuk kompromi. Sedikit saja kelalaian, dampaknya bisa jauh lebih besar dari sekadar rasa jijik—ini soal kesehatan, kepercayaan, dan masa depan.
Ben

