Cianjur//posbidikberita.id-Jambore Ranting (Jamran) 2026 Kecamatan Cikalongkulon,Kabupaten Cianjur. tidak sekadar menjadi ruang perjumpaan dan pembinaan bagi generasi muda. Untuk pertama kalinya, kegiatan kepramukaan tersebut digelar di kawasan wisata Batu Bangkong, menghadirkan perpaduan antara semangat pendidikan kepramukaan, kebersamaan, sekaligus upaya memperkenalkan potensi wisata lokal.
Ketua Kwartir Ranting (Kwarran) Kecamatan Cikalongkulon, Nawawi Somdani, S.Pd., mengatakan pelaksanaan Jamran 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat geliat kegiatan kepramukaan di wilayah Cikalongkulon.

Kegiatan tersebut resmi dibuka melalui apel pembukaan yang berlangsung pada Sabtu (5/September/2026), dengan dihadiri Koordinator Pendidikan (Kordik) Cikalongkulon Dedi Sumarno, S.Pd., M.Pd., sejumlah tokoh kepramukaan, para pembina, serta unsur terkait lainnya. Apel pembukaan secara resmi dibuka oleh Camat Cikalongkulon, Iyus Yusuf, S.STP., M.Si.
Menurut Nawawi, kegiatan tersebut diikuti anggota Pramuka golongan penggalang yang berasal dari berbagai pangkalan pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Madrasah Tsanawiyah (MTs) se-Kecamatan Cikalongkulon, yang total 1.292 peserta.
“Pesertanya merupakan penggalang dari SD, MI, SMP, dan MTs. Untuk kegiatan Jambore Ranting di Batu Bangkong ini jumlahnya sekitar 1.292 siswa,” ujar Nawawi.
Besarnya jumlah peserta menunjukkan bahwa kegiatan kepramukaan masih memiliki ruang yang kuat dalam membentuk karakter generasi muda. Jambore bukan hanya menjadi ajang berkegiatan di alam terbuka, tetapi juga menjadi medium untuk menanamkan nilai kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, solidaritas, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Yang menarik, Jamran 2026 kali ini menjadi catatan tersendiri karena untuk pertama kalinya pelaksanaan kegiatan digelar melalui kolaborasi antara Kwarran Cikalongkulon dengan pengelola kawasan wisata Batu Bangkong.
Nawawi mengapresiasi dukungan dan respons positif pengelola Batu Bangkong yang turut membantu mempersiapkan berbagai kebutuhan kegiatan, khususnya sarana dan prasarana bagi para peserta selama mengikuti rangkaian perkemahan.
“Ini merupakan kegiatan perdana yang bekerja sama dengan pengelola Batu Bangkong. Respons mereka cukup baik dan antusias, sehingga beberapa sarana yang kami butuhkan dapat dibantu. Mudah-mudahan seluruh kebutuhan selama kegiatan dapat terpenuhi,” tuturnya.
Pemilihan Batu Bangkong sebagai lokasi Jamran pun memiliki makna yang lebih luas. Di tengah semangat membangun karakter generasi muda melalui kegiatan kepramukaan, kawasan wisata tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi daerah kepada para peserta dan masyarakat yang lebih luas.
Nawawi berharap keberadaan ribuan peserta selama pelaksanaan Jamran dapat memberikan efek positif bagi geliat pariwisata di Cikalongkulon. Menurutnya, kegiatan dengan jumlah peserta yang besar dapat menjadi momentum strategis untuk mengenalkan berbagai destinasi dan aset wisata yang dimiliki daerah.
“Kami berharap pelaksanaan Jambore Ranting di Batu Bangkong ini juga dapat membantu mempromosikan potensi wisata yang ada di Kecamatan Cikalongkulon. Mudah-mudahan semakin banyak aset wisata dan potensi daerah yang dapat dikenal masyarakat,” ujarnya.
Dengan demikian, Jamran 2026 tidak berhenti pada kegiatan perkemahan semata. Di balik aktivitas kepramukaan yang sarat nilai pendidikan karakter, terselip ikhtiar untuk membangun sinergi antara pendidikan, generasi muda, lingkungan, dan pengembangan potensi wisata daerah.
Batu Bangkong pun menjadi saksi sebuah langkah awal: ketika semangat Pramuka bertemu dengan potensi wisata lokal, keduanya dapat tumbuh menjadi energi positif bagi Cikalongkulon.
Ada hal menarik dalam pelaksanaan Jamran Cikalongkulon 2026. Selain mengedepankan pendidikan kepramukaan, panitia juga memasukkan unsur kearifan lokal dan budaya Sunda ke dalam konsep kegiatan.
Nawawi menjelaskan, pihaknya sengaja mengangkat identitas budaya Sunda sebagai bagian dari upaya mengenalkan kembali nilai-nilai lokal kepada generasi muda.
Salah satunya diwujudkan melalui penggunaan istilah-istilah bernuansa budaya Sunda dalam sistem pemerintahan perkemahan.
“Dalam kegiatan ini kami juga mengedepankan budaya Sunda. Sistem pemerintahan di perkemahan menggunakan istilah yang bernuansa budaya lokal. Begitu juga dengan penamaan wilayah, kami mengambil istilah yang berkaitan dengan Panca Rakeyan dan sejumlah unsur budaya Sunda,” jelasnya.
Menurut Nawawi, pendekatan tersebut bukan sekadar ornamen kegiatan, melainkan bagian dari ikhtiar untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap akar budayanya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, generasi muda dinilai perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan jati diri.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti berbagai agenda kepramukaan, mulai dari materi pendidikan, permainan kreatif, kompetisi, kegiatan kelompok, keterampilan, hingga pelatihan dasar kepemimpinan.
Panitia juga memberikan perhatian khusus terhadap pencapaian Pramuka Garuda, baik untuk golongan Siaga maupun Penggalang.
Menurut Nawawi, program tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan kualitas pendidikan kepramukaan sekaligus memberikan motivasi kepada para peserta didik untuk mencapai jenjang prestasi yang lebih tinggi.
“Kami lebih menekankan materi pada pencapaian Pramuka Garuda, baik golongan Siaga maupun Penggalang. Kemarin sudah ada beberapa Pramuka Garuda yang dilantik, dan itu menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas,” ungkapnya.
Ben

