Temuan Hewan Kecil di Paket MBG di Sukaluyu, SPPG Hegarmanah Tanggapi Hal Tersebut

CIANJUR|POSBIDIKBERITA.COM– Temuan hewan kecil yang diduga merupakan siput telanjang (slug) di dalam wadah makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah dasar di Desa Hegarmanah, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, menjadi sorotan publik. Menanggapi kejadian tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Hegarmanah akhirnya angkat bicara dan membeberkan langkah penanganan yang dilakukan.

Peristiwa itu diketahui terjadi pada 29 September 2026. Namun, informasi mengenai temuan tersebut baru ramai diperbincangkan pada Senin (12/10/2026), atau sekitar dua pekan setelah kejadian.

Penanggung Jawab (PIC) SPPG Hegarmanah, Faisal, menegaskan bahwa temuan tersebut bukanlah sesuatu yang disengaja. Ia menyebut, dari total 471 paket MBG yang didistribusikan ke sekolah, hanya satu paket yang dilaporkan mengalami kejadian tersebut.

“Kejadian itu sudah sekitar dua minggu. Saya mau klarifikasi, kejadian itu bukan disengaja. Dari sebanyak 471 yang didistribusikan ke sekolah itu, ada satu yang kejadian seperti itu,” ujar Faisal, Senin (12/10/2026).

Faisal menjelaskan, pihaknya langsung mengambil tindakan setelah menerima laporan dari sekolah. Proses penanganan diawali dengan komunikasi melalui pesan singkat, kemudian dilanjutkan dengan kedatangan pihak sekolah ke dapur SPPG untuk menyampaikan laporan secara langsung.

Tak menunggu persoalan berlarut-larut, wadah makanan yang dilaporkan bermasalah langsung ditarik dan paket MBG diganti dengan yang baru.

“Pihak sekolah setelah mengonfirmasi lewat pesan singkat juga langsung datang ke dapur dan ompreng langsung ditarik, kemudian diganti dengan yang baru,” katanya.

Menurut Faisal, kecepatan merespons pengaduan menjadi bagian penting dalam menjaga mutu pelayanan sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program MBG.

“Alhamdulillah, setiap kejadian apa pun kita langsung respons, soalnya kita khawatir jadi opini kurang baik di masyarakat,” ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa mekanisme penggantian tidak hanya diberlakukan ketika ditemukan benda atau hewan yang tidak semestinya berada dalam makanan. Kekurangan satu komponen menu maupun makanan yang dinilai tidak memenuhi standar juga disebut akan ditindaklanjuti dengan penggantian.

“Jangankan hewan, kurang satu item pun kita langsung respons, kita ganti. Alhamdulillah, semenjak Desember 2025 sampai sekarang kita masih menjalankan sistem itu. Ketika ada yang kurang atau reject, langsung diganti,” tegas Faisal.

Asal-usul Hewan Belum Terungkap

Di sisi lain, Kepala SPPG Hegarmanah, Fitra Karuna Fajar, mengakui bahwa pihaknya belum dapat memastikan dari mana hewan kecil tersebut berasal. Ia menyampaikan bahwa proses produksi makanan telah dijalankan berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) sterilisasi, sementara wadah makanan yang digunakan disebut dalam kondisi tersegel.

Fitra mengatakan, pihaknya segera merespons begitu menerima informasi dari sekolah. Ia juga menekankan bahwa komunikasi antara pihak sekolah dan pengelola SPPG selama ini berjalan dengan baik.

“Kita dapat informasi, pertama kita langsung respons pada saat ada laporan dari sekolah. Memang komunikasi dengan sekolah juga alhamdulillah berhubungan baik. Yang kedua, kejadian juga sudah lama pada 29 September 2026 dan yang poin ketiganya adanya hewan, tetapi tidak ada kejadian yang menonjol sama sekali,” kata Fitra.

Meski demikian, belum terungkapnya asal-usul hewan kecil tersebut membuat penyebab kejadian belum dapat dipastikan. Penjelasan mengenai SOP dan kondisi wadah makanan menjadi keterangan dari pihak SPPG, tetapi tidak dengan sendirinya menjawab bagaimana hewan tersebut bisa ditemukan di dalam paket makanan.

Pihak SPPG menyatakan tetap bertanggung jawab dengan menarik dan mengganti paket yang dilaporkan bermasalah. Langkah tersebut menjadi bentuk penanganan langsung atas pengaduan yang diterima.

Keamanan Pangan Tetap Menjadi Sorotan

Sebelumnya, informasi mengenai temuan hewan kecil yang diduga merupakan siput telanjang (slug) di dalam ompreng MBG di Desa Hegarmanah telah beredar di masyarakat.

Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG. Sebab, keberhasilan program pemenuhan gizi tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga oleh jaminan kebersihan, kelayakan, dan keamanan pangan yang diterima para siswa.

Respons cepat terhadap pengaduan patut menjadi bagian dari mekanisme pelayanan. Namun, evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan, pengemasan, dan distribusi juga penting dilakukan agar kejadian serupa dapat dicegah dan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG tetap terjaga.

M.Mahdi (Ben)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *