Miris! Proyek Jembatan Rp1 Miliar di Bogor Retak Sebelum Dipakai, Pengawasan Dipertanyakan

Tanjungsari, Bogor Timur//posbidikberita.id– Fakta mencengangkan kembali mencuat dari proyek infrastruktur di Kabupaten Bogor. Sebuah jembatan yang baru saja selesai dibangun sekitar empat bulan lalu, kini sudah menunjukkan kerusakan serius.

Jembatan Ciranjaya yang berada di Kampung Tegal Laja, Desa Cibadak, Kecamatan Tanjungsari, tampak retak di bagian atas samping struktur, memicu kekhawatiran warga.

Proyek pembangunan jembatan ini diketahui merupakan bagian dari program Dinas PUPR Kabupaten Bogor pada tahun anggaran 2025, yang menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bogor—uang yang sejatinya berasal dari pajak masyarakat.

Ironisnya, dengan nilai anggaran yang disebut-sebut mencapai lebih dari Rp1 miliar, kualitas pembangunan justru menuai sorotan tajam.

Berdasarkan pantauan di lapangan, retakan yang awalnya kecil kini semakin melebar dan terlihat jelas.

Kondisi ini dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan yang melintas di atas jembatan tersebut.

Temuan ini seolah menjadi bukti nyata buruknya kualitas pengerjaan proyek oleh pihak kontraktor. Lebih dari itu, kondisi ini juga mencerminkan lemahnya fungsi pengawasan dari pihak terkait.

Meski pekerjaan dilakukan oleh pihak ketiga, tanggung jawab pengawasan tetap berada di pundak Dinas PUPR sebagai instansi teknis yang memiliki kewenangan penuh dalam perencanaan hingga pengendalian mutu pekerjaan.

Pertanyaan besar pun mencuat: siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi ini?

Seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi jembatan, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengaku sudah melihat tanda-tanda keretakan sejak awal proyek selesai.

“Itu sudah lama retaknya, setelah selesai dikerjakan juga awalnya saya lihat retak kecil. Kalau sekarang kan sudah lebar begitu,” ungkapnya pada Sabtu (5/4/2026).

Ia juga mengaku khawatir setiap kali melintasi jembatan tersebut, terutama saat menggunakan kendaraan.

“Saya sendiri takut kalau lewat jembatan bawa kendaraan, takutnya ambruk terus celaka. Siapa yang tanggung jawab? Harapan saya ke pemerintah, kalau bangun itu yang bagus kualitasnya.

Jangan seperti ini. Saya orang awam saja, tidak tahu teknik, tapi masa jembatan mahal hasilnya begini,” keluhnya.

Kondisi ini tidak hanya menimbulkan kecemasan, tetapi juga menggerus kepercayaan publik terhadap pengelolaan anggaran daerah.

Masyarakat menilai bahwa proyek yang didanai dari uang rakyat seharusnya memberikan manfaat maksimal, bukan justru menghadirkan potensi bahaya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab retaknya jembatan tersebut maupun langkah perbaikan yang akan diambil.

Publik kini menunggu sikap tegas dari pemerintah daerah untuk mengusut tuntas dugaan kelalaian ini—baik dari sisi pelaksana proyek maupun pengawasannya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan cepat dan transparan, bukan tidak mungkin Jembatan Ciranjaya akan menjadi simbol kegagalan pembangunan—di tengah harapan masyarakat akan infrastruktur yang aman, kokoh, dan berkelanjutan.

 

 

Ben

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *