Cianjur//posbidikberita.id-Di tengah janji manis pemerataan pendidikan yang kerap digaungkan, kenyataan pahit justru dialami puluhan siswa di SDN Karyamukti, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka.
Alih-alih belajar dengan nyaman dan aman, mereka justru dipaksa bertaruh dengan keselamatan di dalam ruang kelas yang rusak parah dan nyaris ambruk.
Bangunan sekolah yang semestinya menjadi tempat tumbuhnya harapan generasi muda kini berubah menjadi ancaman nyata. Kerusakan parah yang diduga akibat Gempa Cianjur 2022 serta pergerakan tanah yang belum tertangani membuat kondisi sekolah kian memprihatinkan—namun ironisnya, belum juga mendapat perhatian serius.
“Saat ini kami hanya memiliki empat ruang kelas, tapi satu sudah tidak bisa digunakan sama sekali karena sangat membahayakan,” ungkap Eliyan Syahudin, salah satu guru di SDN Karyamukti,pada Jumat (10/4/2026) dengan nada penuh kekhawatiran.
Kondisi tersebut memaksa pihak sekolah mengambil langkah darurat yang jauh dari kata ideal. Beberapa kelas harus digabung dalam satu ruangan sempit.
Satu kelas bahkan diisi oleh dua rombongan belajar sekaligus, menciptakan suasana belajar yang tidak kondusif dan mengganggu fokus siswa.
Bukan hanya soal kenyamanan, keselamatan menjadi taruhan utama.
Dua dari total empat ruang kelas mengalami kerusakan berat, memperlihatkan retakan besar di dinding, plafon rapuh, hingga struktur bangunan yang mengancam kapan saja bisa runtuh.
“Sebagai guru, kami sangat khawatir. Proses pembelajaran jadi tidak efektif karena kami selalu dihantui rasa takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” lanjut Eliyan.
Yang lebih menyakitkan, upaya pihak sekolah untuk memperjuangkan perbaikan seolah menemui jalan buntu.
Pengajuan perbaikan telah dilakukan berkali-kali kepada pemerintah, namun hingga kini belum ada realisasi pembangunan. Tidak ada kepastian, tidak ada tindakan nyata—hanya harapan yang terus menggantung.
Padahal, sekolah ini menjadi tempat belajar bagi 52 siswa dengan dukungan 7 tenaga pendidik yang tetap berjuang di tengah keterbatasan.
Para siswa pun merasakan langsung dampak buruk dari kondisi tersebut.
Deniya, siswa kelas 6, mengungkapkan ketidaknyamanannya saat harus belajar dalam kelas gabungan.
“Belajarnya digabung sama kelas lima. Nggak nyaman,” ujarnya
polos, mencerminkan keresahan yang seharusnya tidak perlu mereka rasakan di usia sekolah dasar.
Lebih dari sekadar ketidaknyamanan, rasa takut menjadi teman sehari-hari mereka.
“Takut roboh,” tambahnya singkat, namun cukup menggambarkan situasi mencekam yang mereka hadapi setiap hari.
Kisah ini bukan sekadar potret kerusakan bangunan, melainkan cerminan nyata dari ketimpangan perhatian terhadap dunia pendidikan di daerah.
Ketika sebagian sekolah berbicara tentang digitalisasi dan fasilitas modern, di sisi lain masih ada anak-anak yang harus belajar di bawah bayang-bayang bangunan yang bisa runtuh kapan saja.
Kini, harapan sederhana mereka hanya satu: perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah. Bukan janji, bukan wacana—melainkan langkah konkret untuk memperbaiki sekolah mereka, demi keselamatan dan masa depan yang lebih layak.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, pertanyaannya bukan lagi apakah sesuatu yang buruk akan terjadi, melainkan kapan.
Ben

