Ingpayagung Cup XI Jadi Ajang Lahirkan Pesilat Muda Berprestasi

Cianjur//posbidikberita.id– Komitmen dalam melestarikan seni bela diri tradisional sekaligus mencetak generasi pesilat berprestasi kembali ditunjukkan Perguruan Bela Diri Pencak Silat Cahya Paroman melalui penyelenggaraan Kejuaraan Ingpayagung Cup XI.

Ajang tahunan tersebut digelar di Kampung Sukawargi, Desa Babakan Karet, Kecamatan Cianjur, Selasa (1/7/2026), dan diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Kejuaraan yang telah memasuki penyelenggaraan ke-11 ini menjadi salah satu agenda bergengsi di lingkungan Perguruan Cahya Paroman.

Selain menjadi wadah kompetisi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembinaan karakter, sportivitas, serta pelestarian pencak silat sebagai warisan budaya bangsa yang telah diakui dunia.

Acara pembukaan berlangsung meriah dan dihadiri sejumlah unsur pemerintah serta tokoh olahraga. Hadir dalam kesempatan itu perwakilan Pemerintah Kabupaten Cianjur, Camat Cianjur, Kepala Desa Babakan Karet, jajaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Cianjur, serta Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Cianjur.

Ketua Panitia, Sagara Intisar, mengatakan bahwa Kejuaraan Ingpayagung Cup merupakan agenda rutin tahunan yang konsisten dilaksanakan sebagai bentuk pembinaan atlet sejak usia dini.

Menurutnya, kejuaraan ini tidak hanya menjadi ajang untuk mengukur kemampuan para pesilat, tetapi juga sebagai ruang bagi generasi muda dalam mengembangkan bakat dan kecintaan terhadap pencak silat.

“Tahun ini kejuaraan diikuti sekitar 210 peserta yang berasal dari 16 kontingen siswa-siswi dari berbagai cabang, ranting, dan unit perguruan se-Jawa Barat,” ujar Sagara.

Ia menjelaskan, tingginya antusiasme peserta menjadi bukti bahwa pencak silat masih memiliki tempat di hati masyarakat, khususnya kalangan generasi muda.

Melalui kompetisi seperti Ingpayagung Cup, para atlet muda tidak hanya ditempa kemampuan teknik bertanding, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, rasa hormat, serta semangat persaudaraan yang menjadi filosofi utama dalam pencak silat.

“Kejuaraan ini bukan hanya sekadar kompetisi. Lebih dari itu, ini adalah upaya nyata untuk menjaga dan melestarikan budaya leluhur sekaligus mencari bibit-bibit pesilat muda yang nantinya mampu mengharumkan nama daerah hingga tingkat nasional bahkan internasional,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Babakan Karet, Isep Solihin, menyampaikan apresiasinya atas konsistensi Perguruan Cahya Paroman dalam menyelenggaraan
kejuaraan yang dinilai memberikan dampak positif bagi pembinaan generasi muda.

Menurutnya, pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri, tetapi merupakan identitas budaya bangsa yang harus terus dijaga keberlangsungannya.

“Pencak silat merupakan salah satu pilar budaya bangsa. Kami dari Pemerintah Desa Babakan Karet mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan ini. Terlebih di desa kami banyak generasi muda yang memiliki potensi besar untuk berkembang dan berprestasi melalui olahraga pencak silat,” ungkap Isep.

Ia berharap kejuaraan seperti Ingpayagung Cup dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi sekaligus memperkuat eksistensi pencak silat di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, pembinaan sejak usia dini menjadi investasi penting dalam mencetak pesilat yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki karakter, etika, dan jiwa sportivitas.

Melalui penyelenggaraan Ingpayagung Cup XI, Perguruan Bela Diri Pencak Silat Cahya Paroman kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan budaya Indonesia sekaligus membuka ruang bagi lahirnya generasi pesilat muda yang siap mengharumkan nama Kabupaten Cianjur dan Provinsi Jawa Barat di berbagai ajang kompetisi pada masa mendatang.

Ben

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *