CIANJUR | POSBIDIKBERITA.ID — Perang melawan tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Cianjur tak lagi sebatas menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur mulai memperkuat strategi jemput bola dengan turun langsung ke tengah masyarakat, melakukan tracing, sekaligus membuka akses pemeriksaan kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Langkah tersebut terlihat dalam kegiatan yang digelar di Aula Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Jumat (2/10/2026). Warga tampak antusias mengikuti pemeriksaan kesehatan sekaligus mendapatkan edukasi mengenai pencegahan dan penularan TBC.
Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Desa Bobojong Suwandi. Tenaga kesehatan dari Puskesmas Kademangan dan Puskesmas Mande juga diterjunkan untuk memperkuat pelayanan sekaligus memastikan upaya deteksi dini berlangsung langsung di tengah masyarakat.

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Mugi Prajeni, mengatakan tracing TBC merupakan bagian dari investigasi dan penemuan kasus secara aktif.
Menurut Mugi, ketika seseorang terindikasi atau dinyatakan mengidap TBC, pemeriksaan tidak berhenti pada pasien. Orang-orang yang tinggal serumah hingga mereka yang memiliki kontak erat juga perlu diperiksa untuk mendeteksi kemungkinan penularan sedini mungkin.
“Tracing TBC ini dilakukan dengan investigasi terhadap penyakit tuberkulosis. Jika ada satu orang yang mengidap TBC, maka minimal anggota dalam satu rumah perlu diperiksa. Bahkan kontak erat di lingkungan sekitarnya juga perlu dilakukan investigasi dan pemeriksaan,” ujar Mugi.
TBC merupakan penyakit menular yang dapat menyebar melalui udara. Karena itu, menurut Mugi, deteksi dini menjadi instrumen penting untuk menemukan kasus sekaligus mencegah munculnya rantai penularan baru.
Di Desa Bobojong, strategi tersebut dipadukan dengan program CKG. Integrasi ini menjadi bagian dari pendekatan pelayanan kesehatan yang lebih proaktif, yakni mendekatkan pemeriksaan kepada masyarakat sekaligus menggeser paradigma dari menunggu sakit menjadi mencegah sebelum terlambat.
“Cek kesehatan gratis ini mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Pemeriksaan kesehatan sebaiknya tidak menunggu seseorang sakit terlebih dahulu. Ketika masih merasa sehat pun perlu dilakukan pemeriksaan, karena bisa saja terdapat penyakit menular maupun tidak menular yang belum terdeteksi,” katanya.
Bagi Mugi, membangun kesehatan masyarakat tidak cukup dengan pendekatan kuratif. Pencegahan dan deteksi dini harus menjadi bagian dari kesadaran sehari-hari.
Ia mengimbau masyarakat menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan, istirahat dan perilaku hidup sehat.
Warga yang mengalami keluhan seperti batuk, pilek, atau kondisi tubuh menurun juga dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko penularan penyakit melalui udara.
“Deteksi dini lebih baik. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Masyarakat kami imbau untuk memproteksi diri dengan menjaga kesehatan, pola makan, pola istirahat, serta kebiasaan hidup sehat,” tuturnya.
Peralihan musim dari kemarau menuju penghujan, lanjut Mugi, juga menjadi momentum untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai gangguan kesehatan. Namun, menurutnya, hal yang jauh lebih penting adalah konsistensi masyarakat dalam menjaga kesehatan dan segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala tertentu.
Dinkes Kabupaten Cianjur menargetkan pengendalian TBC dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari agenda eliminasi TBC pada 2030. Upaya tersebut tidak hanya bertumpu pada penemuan kasus, tetapi juga memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas agar rantai penularan tidak terus berlanjut.
“Mari kita tuntaskan TBC menuju 2030. Dari sekarang cegah penularannya, putus mata rantainya. Jika ada yang menderita TBC, harus mendapatkan pengobatan sampai tuntas sehingga tidak terjadi penularan dan muncul kasus-kasus baru,” tegasnya.
Pelayanan Kesehatan Harus Mendatangi Warga
Apresiasi datang dari Kepala Desa Bobojong Suwandi. Ia menilai kehadiran langsung tenaga kesehatan di tengah masyarakat memberikan manfaat nyata bagi warga, terlebih Desa Bobojong memiliki lima kedusunan dengan karakteristik serta kebutuhan pelayanan yang beragam.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur yang sudah jemput bola datang langsung ke masyarakat. Kegiatan ini sangat membantu warga kami, khususnya dalam pemeriksaan kesehatan sekaligus mendapatkan edukasi mengenai tracing TBC,” ujar Suwandi.
Ia berharap pendekatan pelayanan kesehatan secara jemput bola dapat dilakukan secara berkesinambungan. Dengan begitu, akses pemeriksaan semakin dekat dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan terus tumbuh.
Pada akhirnya, upaya memutus mata rantai TBC tidak semata berlangsung di ruang pemeriksaan atau balik dinding fasilitas kesehatan. Ia harus hadir di tengah masyarakat—melalui deteksi dini, pemeriksaan, edukasi, pengobatan yang tuntas, dan kesadaran kolektif untuk mencegah penularan.
Sebab dalam perang melawan TBC, menemukan kasus lebih awal bukan sekadar menemukan penyakit. Itu adalah langkah untuk menghentikan satu mata rantai sebelum berubah menjadi rantai penularan yang lebih panjang.
M.Mahdi (Ben)
