Pertanian Cianjur Tertekan Kemarau, Pemetaan Sumber Air Jadi Langkah Utama

Cianjur//posbidikberita.id– Kemarau panjang mulai menguji ketahanan sektor pertanian di Kabupaten Cianjur. Minimnya curah hujan yang dipengaruhi fenomena El Nino membuat ketersediaan air kian terbatas, sementara tanaman tetap membutuhkan pasokan air untuk bertahan dan tumbuh. Di tengah kondisi tersebut, petani dituntut tidak sekadar menunggu hujan, tetapi mampu membaca perubahan musim dan mengambil langkah adaptif sebelum kekeringan berkembang menjadi ancaman yang lebih serius.

Tekanan terbesar kini membayangi lahan pertanian yang berada jauh dari sumber air. Jika kondisi ini berlangsung tanpa penanganan, kekeringan berpotensi menekan produktivitas bahkan memicu gagal panen. Karena itu, strategi bercocok tanam tidak lagi dapat dilakukan dengan pola yang sama seperti saat kondisi air normal. Pemilihan komoditas, waktu tanam, hingga pengelolaan sumber air harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan air tanaman.

Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Mande, Rudi Supriatno, mengatakan langkah awal yang perlu dilakukan petani adalah memetakan seluruh potensi sumber air yang masih tersedia. Pemetaan tersebut penting untuk menentukan apakah sebuah lahan masih layak ditanami atau justru perlu ditunda hingga kondisi air kembali memungkinkan. Menurutnya, petani yang berada di sekitar sumber air masih memiliki peluang mempertahankan aktivitas pertanian, sedangkan wilayah yang minim air membutuhkan strategi yang lebih selektif.

“Petani harus mengetahui terlebih dahulu potensi yang ada. Kalau memang masih memungkinkan untuk ditanami, pilih tanaman yang umurnya lebih pendek, memiliki hasil yang baik, dan relatif tahan terhadap kondisi kering,” ujar Rudi, Jumat (4/9/2026).

Untuk wilayah yang memiliki potensi air tanah, lanjut Rudi, penyediaan air dapat dilakukan melalui pembangunan sumur bor maupun pompanisasi. Namun, langkah tersebut tidak boleh dilakukan secara serampangan. Potensi air tanah harus dipastikan terlebih dahulu melalui kajian teknis, salah satunya dengan survei geolistrik, sehingga investasi infrastruktur air benar-benar dibangun pada lokasi yang memiliki cadangan air memadai.

“Kalau memang wilayahnya berpotensi, bisa dibantu melalui pembangunan sumur bor atau pompanisasi. Untuk air tanah dangkal, potensi sumber airnya perlu diketahui terlebih dahulu,” katanya.

Rudi menegaskan, pembangunan sarana air tanah membutuhkan perencanaan yang matang, mulai dari kedalaman sumber air hingga debit yang mampu menopang kebutuhan lahan pertanian. Karena itu, pemetaan dan pengkajian menjadi bagian penting agar infrastruktur yang dibangun tidak sekadar menjadi proyek jangka pendek, melainkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi kelompok tani.

Di sisi lain, sarana pompa yang telah tersedia juga perlu dioptimalkan, termasuk melalui koordinasi antarkelompok maupun pemanfaatan fasilitas yang dapat dipinjam atau difasilitasi melalui unsur kewilayahan.
Dalam menghadapi tekanan kemarau, dukungan operasional juga menjadi bagian yang tidak kalah penting. Dinas Pertanian memberikan rekomendasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) di SPBU. Pembelian dapat menggunakan jeriken sesuai kebutuhan operasional alsintan dan ketentuan yang berlaku.

Langkah tersebut diharapkan membantu menjaga kelancaran aktivitas pertanian, khususnya bagi kelompok tani yang membutuhkan dukungan pompa untuk mengalirkan air ke lahan.
“Yang paling penting, pola tanam harus disesuaikan dengan kondisi musim. Jangan memaksakan menanam apabila tidak ada sumber air yang dapat menjamin kebutuhan tanaman. Petani harus mampu membaca kondisi alam, mengatur waktu tanam, memilih jenis tanaman yang sesuai, serta memanfaatkan seluruh potensi sumber air yang tersedia,” tutupnya.

Ben

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *