8 Tahun Rumah Ceria Repok “Memanusiakan Manusia”: Tegas Lawan Pasung ODGJ, Kini Butuh Ambulance dan Lahan

Cianjur//posbidikberita.id – Di tengah masih kuatnya stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), justru memilih jalan berbeda: merawat dengan hati, memanusiakan manusia, dan menolak keras praktik pemasungan.

Semangat tersebut kembali digaungkan dalam peringatan Milad ke-8 Yayasan Rumah Ceria Repok, yang dirangkaikan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Reuni Akbar keluarga binaan, serta santunan anak yatim. Kegiatan berlangsung di Kampung Cibadak RT 02/RW 08, Desa Sukamahi, Kabupaten Cianjur, Minggu (30/8/2026).

Acara berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Sejumlah unsur hadir, mulai dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas, Kepala Desa Cikancana Nanang yang selama ini dikenal sebagai salah satu donatur dan saksi perjalanan berdirinya yayasan, para tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga pasien, warga binaan, hingga masyarakat sekitar.

Turut hadir pula salah satu donatur dari Alam Sunda. Sementara tausiah Maulid disampaikan oleh H. Farid, pimpinan Pesantren Al-Hidayah Cianjur.

Bukan sekadar seremoni, peringatan delapan tahun ini menjadi pengingat bahwa ODGJ bukan untuk dijauhi, apalagi dipasung. Mereka tetap manusia yang memiliki hak untuk dirawat, dihormati, dan diberi kesempatan untuk pulih serta kembali produktif.

Moto “Memanusiakan Manusia, Mengobati dengan Hati” menjadi napas perjuangan Rumah Ceria Repok. Pesan yang disampaikan pun tegas: stop pasung!

Saksi Sejarah Minta Dukungan Pemerintah

Kepala Desa Cikancana, Nanang, yang merupakan salah satu saksi sejarah berdirinya Rumah Ceria Repok sekaligus donatur tetap, mengungkapkan bahwa kepeduliannya terhadap yayasan tersebut sudah berlangsung sejak awal.

Menurutnya, meskipun Rumah Ceria Repok tidak berada di wilayah administrasi Desa Cikancana, kepedulian terhadap kemanusiaan tidak boleh dibatasi oleh batas wilayah desa.

Ia mengenang ketika pertama kali melihat kondisi yayasan yang saat itu masih menyewa tempat. Kondisi tersebut kemudian mendorong dirinya bersama perangkat desa, BPD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta masyarakat untuk ikut memikirkan pembangunan tempat yang lebih layak bagi para warga binaan.

“Walaupun yayasan ini bukan berada di Desa Cikancana, kami tidak pandang bulu. Siapa pun yang memang perlu dibantu, tentu akan kami bantu,” ujar Nanang.

Ia berharap perhatian terhadap Rumah Ceria Repok tidak hanya datang dari masyarakat, tetapi juga pemerintah daerah hingga pemerintah provinsi.

Menurutnya, saat ini yayasan membutuhkan satu unit ambulans untuk mendukung pelayanan dan penanganan warga binaan. Selain itu, kebutuhan lahan juga menjadi persoalan yang harus segera dicarikan solusi.

“Kami membutuhkan armada, terutama ambulans. Selain itu juga ada kebutuhan lahan untuk pembangunan. Nilainya kurang lebih sekitar Rp100 juta untuk kebutuhan yang harus segera dipenuhi,” katanya.

Nanang pun menyampaikan harapan agar Gubernur Jawa Barat dan Bupati Cianjur dr. Muhammad Wahyu Ferdian dapat melihat langsung kebutuhan Rumah Ceria Repok dan memberikan dukungan nyata.

Ia menilai, keberadaan yayasan tersebut bukan hanya membantu keluarga pasien, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memberikan solusi sosial dan kemanusiaan bagi masyarakat.

Ketua Yayasan: ODGJ Jangan Dikucilkan

Sementara itu, Ketua Yayasan Rumah Ceria Repok, Rosini, S.Tr., Kep., mengatakan kegiatan Maulid dan Reuni Akbar digelar sebagai ajang mempererat silaturahmi antara keluarga pasien, warga binaan, pengurus yayasan, donatur, dan masyarakat.

Menurut Rosini, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat secara langsung perkembangan para warga binaan.

“Tujuan pertama tentu untuk silaturahmi, antara keluarga dengan warga binaan, keluarga dengan pengurus yayasan, dan masyarakat. Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa mereka yang selama ini mungkin dianggap berbeda ternyata bisa beraktivitas dan diberdayakan,” ungkap Rosini.

Dalam kegiatan tersebut, para warga binaan juga mendapat kesempatan tampil di hadapan masyarakat. Ada yang mengaji, berpidato, hingga menunjukkan berbagai kemampuan yang mereka miliki.

Hal itu, kata Rosini, menjadi bukti bahwa ODGJ bukan berarti tidak memiliki kemampuan.

“Masyarakat bisa melihat sendiri. Tadi ada warga binaan yang tampil mengaji, ada yang juara pidato. Ini menunjukkan bahwa mereka tetap mempunyai kemampuan dan bisa diberdayakan,” ujarnya.

Selain kegiatan Maulid, acara juga diisi dengan santunan anak yatim dan berbagai kegiatan kebersamaan.

Rosini mengungkapkan, Rumah Ceria Repok saat ini masih menghadapi keterbatasan fasilitas. Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah perluasan lahan dan pembangunan mushola khusus bagi warga binaan.

Di belakang yayasan, terdapat lahan yang diperkirakan memiliki luas sekitar 2.200 meter persegi yang diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan fasilitas yayasan.

“Dulu harga yang ditawarkan sekitar Rp250 juta. Sampai sekarang kami belum memiliki dana untuk membelinya. Mudah-mudahan ada para donatur dan dermawan yang peduli dan berempati sehingga lahan itu bisa dimanfaatkan untuk pengembangan yayasan,” tuturnya.

Donatur Tak Banyak Bicara, Tapi Konsisten Bersedekah
Dalam kegiatan tersebut, dukungan para donatur juga menjadi bagian penting. Salah satunya datang dari pihak Alam Sunda yang turut memberikan kontribusi untuk kegiatan yayasan.

Rosini menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang selama ini tidak hanya membantu saat ada acara, tetapi juga konsisten memberikan perhatian kepada warga binaan.

Ia menyebut salah satu sosok donatur yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Haji Gocap”, karena dikenal gemar bersedekah dengan nominal Rp50 ribu kepada siapa pun yang membutuhkan.

“Kalau kami sebut beliau, di mana pun berada pasti bersedekah. Bahkan sering dengan uang Rp50 ribu. Kami sangat bersyukur ada orang-orang yang peduli seperti itu,” katanya.

Pesan Tegas: Jangan Pasung ODGJ

Di usia ke-8, Rumah Ceria Repok kembali menyampaikan pesan yang sederhana tetapi sangat penting: jangan jauhi ODGJ dan jangan pernah memasung mereka.
Rosini mengajak masyarakat Cianjur, Jawa Barat, hingga seluruh Indonesia agar tidak lagi memandang gangguan jiwa sebagai aib keluarga.

Menurutnya, banyak warga binaan yang setelah mendapatkan pengobatan dan pendampingan secara rutin mampu menunjukkan perubahan positif, bahkan kembali bekerja dan beraktivitas di tengah masyarakat.

“Kalau ada keluarga atau siapa pun yang mengalami gangguan jiwa, jangan dijauhi. Mereka adalah manusia biasa. Mereka bisa pulih, bisa sehat, dengan pengobatan rutin dan penanganan medis yang tepat,” tegasnya.

Ia mengatakan, pengalaman selama mendampingi warga binaan telah membuktikan bahwa sebagian dari mereka mampu kembali produktif dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Jangan kecilkan mereka. Mereka adalah manusia yang harus kita manusia-kan. Dan yang paling penting, **tidak ada pasung. Pasung itu tidak manusiawi dan tidak boleh ada lagi,” pungkas Rosini.

Delapan tahun perjalanan Rumah Ceria Repok akhirnya bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah yayasan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas desa, status sosial, maupun kondisi kejiwaan seseorang.

Sebab, ketika orang lain memilih menjauh, Rumah Ceria Repok memilih mendekat—mengobati dengan hati dan memanusiakan manusia dan dengan tegas stop pasung.

 

 

Ben

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *