CIANJUR|POSBIDIKBERITA.ID – Membaca arah politik masa depan tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekuatan elektoral hari ini. Diperlukan keberanian untuk menyiapkan generasi berikutnya. Semangat itulah yang tampak dalam langkah DPD Partai Golkar Kabupaten Cianjur melalui penyelenggaraan Pendidikan Politik (Dikpol) di Aula Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Golkar Cianjur memperluas ruang edukasi politik, khususnya bagi kalangan milenial dan Generasi Z (Gen Z) yang diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan penentu dalam kontestasi demokrasi mendatang.
Dikpol bukan sekadar agenda seremonial organisasi. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang pembelajaran untuk membangun kesadaran politik, meningkatkan kecerdasan demokrasi, serta mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Cianjur, TB. Mulyana Syahrudin, Sekretaris Umum Asep Iwan Gusniardi, serta anggota DPRD Kabupaten Cianjur dari Komisi III, Muhamad Zulfahmi.
Ketua DPD Golkar Cianjur, TB. Mulyana Syahrudin, menegaskan bahwa generasi muda menjadi salah satu kelompok strategis yang harus mendapatkan perhatian serius dalam pendidikan dan sosialisasi politik.
Menurutnya, komposisi pemilih pada Pemilu 2029 diperkirakan akan didominasi kelompok usia muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z. Berdasarkan proyeksi yang disampaikannya, kelompok usia tersebut berpotensi mencakup sekitar 57 persen pemilih, bahkan terdapat estimasi lain yang menyebut angka 60 hingga 70 persen.
“Artinya, Pemilu 2029 akan menjadi momentum penting bagi generasi milenial dan Gen Z. Mereka bukan lagi sekadar objek sosialisasi politik, melainkan kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah demokrasi dan kepemimpinan bangsa,” ungkap TB. Mulyana.
Ia menilai, fenomena bonus demografi harus disikapi dengan langkah konkret. Besarnya populasi usia produktif perlu diimbangi dengan peningkatan literasi politik agar generasi muda tidak hanya memiliki kekuatan dalam jumlah, tetapi juga kualitas dalam menentukan pilihan politik.
Karena itu, Golkar Cianjur menargetkan pendidikan dan sosialisasi politik dapat menjangkau kelompok usia yang menjadi basis pemilih potensial tersebut.
Meski demikian, Mulyana menegaskan bahwa perhatian terhadap generasi muda bukan berarti mengesampingkan kelompok usia di atas 45 tahun. Menurutnya, seluruh lapisan masyarakat tetap memiliki kontribusi penting dalam membangun kekuatan politik dan kehidupan demokrasi.
“Kelompok usia di atas 45 tahun juga tetap memiliki peran yang sangat signifikan. Jadi, pendekatannya bukan membatasi pada satu generasi, melainkan bagaimana seluruh elemen masyarakat dapat terlibat dalam proses demokrasi,” jelasnya.
Target Politik 2029 Masih Dikaji
Ketika disinggung mengenai target politik Partai Golkar Kabupaten Cianjur pada Pemilu 2029, Mulyana menyebut pihaknya telah memiliki orientasi dan target elektoral yang akan diperjuangkan bersama seluruh jajaran partai.
Namun, terkait target perolehan kursi legislatif, ia belum bersedia mengungkapkan angka secara terbuka. Menurutnya, penentuan target harus melalui kajian internal yang komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai variabel politik dan sosial di Kabupaten Cianjur.
“Setiap kontestasi politik tentu ada target yang harus diperjuangkan. Kami bersama teman-teman di DPD memiliki orientasi untuk meningkatkan perolehan suara. Syukur-syukur peningkatan suara tersebut dapat dikonversi menjadi tambahan kursi. Tetapi untuk angka pastinya, masih harus dikaji secara internal,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa peta politik bukan sesuatu yang statis. Dinamika sosial, perubahan preferensi pemilih, hingga perkembangan konstelasi politik daerah akan menjadi faktor yang turut memengaruhi perumusan strategi partai ke depan.
Langkah Golkar Cianjur melalui pendidikan politik ini sekaligus memperlihatkan bahwa pertarungan menuju 2029 tidak semata-mata berbicara tentang perebutan suara, tetapi juga tentang kemampuan partai membangun kedekatan, kepercayaan, dan relevansi dengan masyarakat.
Sebab, di tengah perubahan lanskap politik dan pergeseran demografi pemilih, partai yang mampu memahami aspirasi generasi muda serta menghadirkan pendidikan politik yang substantif memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan.
Pada akhirnya, masa depan politik tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat hari ini, tetapi juga oleh siapa yang paling siap membaca dan merangkul generasi penentu esok hari.
M.Mahdi (Ben)
