Ojek Pangkalan di Cianjur Diduga Terhipnotis, Uang Rp3 Juta Raib”

Foto:Dugan Pelaku Hipnotis

Cianjur//posbidikberita.id– Peristiwa yang mengundang tanda tanya sekaligus keprihatinan terjadi di wilayah Kampung Salajambe, Desa Salajambe, Kabupaten Cianjur. Seorang pria bernama Pepe (55), yang sehari-hari menggantungkan hidup sebagai ojek pangkalan, diduga menjadi korban penipuan bermodus hipnosis oleh seorang perempuan tak dikenal pada Rabu, 22 April 2026.

Kejadian bermula seperti aktivitas biasa. Pagi itu, Pepe menerima seorang penumpang perempuan yang mengaku bernama Ati.

Tanpa menunjukkan gelagat mencurigakan, perempuan tersebut meminta diantar menuju Pasar Beas dengan alasan hendak mengunjungi rumah saudaranya. Dalam keseharian sebagai tukang ojek, permintaan semacam itu tentu bukan hal yang asing bagi Pepe.

Namun, perjalanan yang awalnya tampak biasa itu perlahan berubah menjadi situasi yang janggal.

Dalam perjalanan, perempuan tersebut mulai berbicara mengenai kebutuhan mendesak akan uang sebesar Rp3 juta. Ia meyakinkan Pepe bahwa uang tersebut hanya bersifat sementara, dengan jaminan berupa kalung emas seberat sekitar 10 gram yang disebut-sebut sedang digadaikan.

Dengan bujuk rayu yang diduga kuat disertai teknik manipulasi psikis atau hipnosis, Pepe akhirnya luluh dan bersedia membantu.

Tidak berhenti di situ, perempuan tersebut bahkan mengarahkan Pepe untuk mencari dana dengan dalih akan mendapatkan keuntungan setelah emas ditebus dan dijual kembali. Pepe, yang diduga berada dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar atau terpengaruh, mengikuti instruksi tersebut hingga akhirnya memperoleh uang yang dimaksud.

Setelah uang berhasil didapatkan, perjalanan berlanjut menuju sebuah lokasi yang diklaim sebagai rumah saudara si perempuan di kawasan Beas.

Namun, kenyataan pahit terungkap ketika mereka tiba di lokasi. Rumah yang dimaksud ternyata bukan milik kerabat pelaku, melainkan milik orang lain yang tidak mengetahui apa-apa mengenai rencana tersebut.

Kesadaran Pepe perlahan kembali. Ia mulai menyadari kejanggalan demi kejanggalan yang sebelumnya tidak ia rasakan. Dalam kondisi kebingungan, ia mendapati bahwa perempuan yang bersamanya telah menghilang tanpa jejak.

Upaya pencarian sempat dilakukan selama kurang lebih setengah jam di sekitar lokasi, namun hasilnya nihil.

Saat dikonfirmasi pada Minggu (26/4/2026), Oyeh, yang merupakan saudara korban, menyampaikan kronologi kejadian dengan nada kecewa dan prihatin. Ia menjelaskan bahwa korban sempat diajak berkeliling hingga ke wilayah perempatan Cikijing dengan tujuan mencari uang untuk menebus emas.

Bahkan, disebutkan adanya indikasi keterlibatan pihak lain yang seolah telah “bekerja sama” dalam skenario tersebut, termasuk dugaan transaksi di sebuah toko di wilayah Cianjur.

“Saudara saya itu seperti tidak sadar. Dia nurut saja diminta mencari uang Rp3 juta dengan janji akan dibagi hasil setelah emas dijual. Tapi setelah sampai di lokasi, orang yang dimaksud tidak ada, dan perempuan itu menghilang begitu saja,” ungkap Oyeh kepada awak media.

Lebih lanjut, Oyeh juga menyampaikan bahwa korban mengalami kesulitan mengingat detail pelaku, termasuk identitas asli maupun ciri-ciri jelas perempuan tersebut. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa korban berada di bawah pengaruh hipnosis atau manipulasi psikologis saat kejadian berlangsung.

Kerugian materi yang dialami korban mencapai Rp3 juta, jumlah yang tentu tidak kecil bagi seorang ojek pangkalan. Ironisnya, hingga saat ini, kasus tersebut belum dilaporkan secara resmi kepada pihak berwajib karena tidak adanya bukti transaksi seperti kuitansi atau catatan tertulis,”tegas Oyeh.

Lanjut Oyeh meski demikian, pihak keluarga berharap agar pelaku segera ditemukan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Mereka juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap modus penipuan serupa yang kian berkembang dengan berbagai cara, termasuk pendekatan psikologis yang sulit disadari oleh korban.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga bisa menyusup melalui celah kepercayaan dan kondisi mental seseorang.

“Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, kewaspadaan menjadi benteng utama agar tidak terjerumus dalam jebakan yang merugikan, baik secara materi maupun psikologis,” tutup Oyeh

Ben

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *