Cianjur//posbidikberita.id – Pemandangan tak biasa terlihat di SPBU 34.432.01 yang berlokasi di Jalan Raya Bandung, Rawa Bango, Kabupaten Cianjur, Selasa (9/6/2026). Ratusan kendaraan angkutan barang dan truk roda enam tampak mengular panjang untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
Panjang antrean bahkan diperkirakan mencapai sekitar 700 meter, memadati bahu jalan dan membuat suasana di sekitar SPBU terlihat jauh lebih sibuk dibanding hari-hari biasanya.
Kondisi tersebut diduga dipicu oleh terbatasnya pasokan solar di sejumlah SPBU lain, sehingga para pengemudi truk memilih datang ke SPBU 34.432.01 yang masih memiliki stok solar.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata bagaimana kelangkaan solar mulai berdampak langsung terhadap aktivitas para pelaku usaha transportasi dan distribusi barang.
Demi mendapatkan jatah bahan bakar, para sopir harus rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu giliran mengisi tangki kendaraan mereka.

Salah seorang sopir truk, Diki, mengaku terpaksa mengantre di SPBU tersebut karena di sejumlah wilayah lain solar sulit ditemukan.
“Mau bagaimana lagi, sekarang solar susah dicari. Di beberapa SPBU kosong, jadi kami terpaksa antre di sini karena masih ada stok. Saya dari daerah Cianjur dan mau mengirim barang ke wilayah Cikalong. Kalau begini aktivitas jadi terhambat,” ujarnya.
Menurut Diki, antrean panjang tersebut membuat jadwal pekerjaannya menjadi tidak menentu. Waktu yang seharusnya digunakan untuk perjalanan dan pengiriman barang justru habis di lokasi pengisian bahan bakar.
“Biasanya perjalanan bisa lebih cepat, sekarang harus antre sampai sekitar satu jam bahkan lebih. Harapannya solar bisa kembali normal seperti biasa. Kalau terus seperti ini sangat merugikan dan membuat pekerjaan terlambat,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh sopir lainnya, Ramdan. Ia menilai kondisi kelangkaan solar yang terjadi saat ini sangat menghambat aktivitas para pengemudi angkutan barang yang bergantung pada ketersediaan BBM subsidi tersebut.
“Kalau solar susah, otomatis pekerjaan juga ikut terhambat. Waktu banyak terbuang di antrean. Harapan kami pasokan bisa kembali lancar dan normal sehingga tidak ada lagi antrean panjang seperti ini,” ungkap Ramdan.
Antrean kendaraan yang mengular hingga ratusan meter tersebut menjadi sinyal bahwa distribusi solar di sejumlah wilayah perlu mendapat perhatian serius. Sebab, ketika pasokan tersendat, bukan hanya sopir yang terdampak, tetapi juga rantai distribusi barang yang berpotensi mengalami keterlambatan.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin biaya operasional transportasi akan meningkat dan berdampak pada sektor lainnya.
Para pengemudi pun berharap pihak terkait segera mengambil langkah cepat agar pasokan solar kembali stabil, sehingga aktivitas distribusi barang dapat berjalan normal tanpa harus diwarnai antrean panjang yang menguras waktu dan tenaga.
“Ketika solar menjadi barang yang sulit dicari, yang mengantre bukan hanya kendaraan, tetapi juga produktivitas yang ikut tertahan di jalan.”
Ben

