Cianjur//posbidikberita.id-Peringatan Hari Donor Darah Sedunia yang jatuh setiap 14 Juni menjadi momentum penting bagi Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cianjur untuk mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Namun di balik semangat kemanusiaan yang digaungkan dalam peringatan tersebut, PMI mengungkap kondisi yang memprihatinkan terkait ketersediaan stok darah yang saat ini berada pada level kritis.
Kegiatan yang digelar di halaman Kantor PMI Kabupaten Cianjur, Jalan Raya Dr Muwardi, Minggu (14/6/2026), berlangsung meriah dan dihadiri Bupati Cianjur dr. Muhamad Wahyu Ferdian, unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala perangkat daerah, serta jajaran pengurus PMI.
Selain menjadi ajang apresiasi bagi para pendonor sukarela, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan budaya donor darah sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati Cianjur dr. Muhamad Wahyu Ferdian menegaskan bahwa donor darah merupakan bentuk nyata kepedulian sosial yang memiliki dampak besar bagi keselamatan jiwa seseorang.
Ia berharap kesadaran untuk mendonorkan darah tidak hanya muncul saat kondisi darurat, tetapi menjadi kebiasaan yang dilakukan secara rutin.
“Donor darah adalah wujud nyata kepedulian dan semangat gotong royong. Setiap tetes darah yang disumbangkan dapat menjadi harapan hidup bagi orang lain. Kami berharap generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, menjadikan donor darah sebagai gaya hidup yang positif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PMI Kabupaten Cianjur, Ahmad Fikri, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menghadapi tantangan serius dalam memenuhi kebutuhan darah masyarakat.
Tingginya jumlah pendaftar donor darah ternyata tidak berbanding lurus dengan jumlah darah yang berhasil dikumpulkan dan layak digunakan.
Berdasarkan data PMI, selama periode 6 hingga 13 Juni 2026, sebanyak 3.013 orang mendaftarkan diri sebagai calon pendonor dalam berbagai kegiatan yang digelar di sejumlah wilayah, mulai dari Cipanas, Pacet hingga Kadupandak.
Namun, setelah melalui proses pemeriksaan kesehatan, hanya 163 orang yang memenuhi syarat untuk mendonorkan darah.
“Kesenjangan antara jumlah pendaftar dan pendonor yang lolos seleksi kesehatan masih sangat tinggi. Akibatnya, darah yang berhasil dikumpulkan belum mampu memenuhi kebutuhan yang ada,” kata Ahmad Fikri.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada menipisnya stok darah di PMI Kabupaten Cianjur. Jika standar aman persediaan darah minimal berada di angka 100 kantong, dalam dua pekan terakhir stok yang tersedia hanya berkisar 20 kantong darah.
Padahal, kebutuhan darah di Kabupaten Cianjur mencapai sedikitnya 30 kantong per hari. Kebutuhan tersebut sebagian besar diperuntukkan bagi pasien talasemia yang memerlukan transfusi darah secara rutin, serta pasien lain yang membutuhkan penanganan medis segera.
“Jika kebutuhan darah tidak terpenuhi, tentu akan berdampak langsung terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien yang membutuhkan transfusi,” tegasnya.
Untuk menjaga keberlangsungan pelayanan, PMI Cianjur saat ini harus menjalin koordinasi dan kerja sama dengan sejumlah PMI di luar daerah, seperti Bogor dan Jakarta, guna memperoleh tambahan stok darah ketika kebutuhan mendesak meningkat.
Di sisi lain, Ahmad Fikri juga meluruskan persepsi masyarakat terkait biaya yang dikenakan saat darah digunakan oleh pasien.
Menurutnya, biaya tersebut bukan untuk membeli darah, melainkan sebagai pengganti biaya pengolahan dan penyimpanan yang harus dilakukan sesuai standar medis.
“Darah yang diperoleh dari pendonor memang diberikan secara sukarela. Namun sebelum dapat digunakan, darah harus melalui berbagai tahapan, mulai dari pemeriksaan laboratorium, skrining penyakit menular, pengolahan komponen darah, hingga penyimpanan dengan peralatan khusus. Seluruh proses tersebut memerlukan biaya operasional,” jelasnya.
Ke depan, PMI Kabupaten Cianjur berkomitmen memperluas edukasi dan sosialisasi mengenai donor darah kepada masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah dan komunitas.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah pendonor aktif sekaligus membangun pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menjaga ketersediaan darah bagi kebutuhan kemanusiaan.
Peringatan Hari Donor Darah Sedunia tahun ini menjadi pengingat bahwa setetes darah yang disumbangkan memiliki arti besar bagi kehidupan.
Di tengah menipisnya persediaan darah, partisipasi masyarakat menjadi kunci untuk memastikan setiap pasien yang membutuhkan dapat memperoleh harapan dan kesempatan hidup yang lebih baik.
Ben

