Usia Hanya Angka, Asep Akung Kayuh Sepeda Menuju Mekah Lewati 10 Negara

Cianjur//posbidikberita.id– Di saat banyak orang seusianya memilih menikmati masa pensiun dengan beristirahat bersama keluarga, Asep Akung justru memilih jalan yang berbeda.

Pria asal Kabupaten Garut yang kini berusia 63 tahun itu menantang dirinya untuk mewujudkan sebuah mimpi besar yang selama bertahun-tahun tersimpan di dalam hati, yakni mengayuh sepeda menuju Tanah Suci Mekah.

Dengan semangat yang tak pernah pudar dan tekad yang begitu kuat, Asep memulai perjalanan panjangnya dari Garut pada Minggu (14/6/2026).

Sebuah perjalanan yang tidak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga keteguhan mental, kesabaran, dan keyakinan dalam menghadapi berbagai tantangan yang akan ditemui sepanjang perjalanan ribuan kilometer melintasi benua.

Pada Selasa (16/6/2026), kayuhan sepeda Asep tiba di Kabupaten Cianjur. Kehadirannya disambut hangat oleh para pegiat sepeda yang tergabung dalam Komunitas Federal Cianjur.

Dipimpin oleh Tedi dan Haji Adi, para pesepeda Cianjur memberikan dukungan moril sekaligus semangat kepada Asep sebelum melanjutkan perjalanannya menuju tujuan yang sangat jauh namun penuh makna.

Bagi banyak orang, perjalanan dari Indonesia menuju Mekah dengan menggunakan pesawat saja sudah terasa jauh. Namun bagi Asep Akung, jarak tersebut bukanlah alasan untuk mengubur impian.

Dengan sebuah sepeda dan keyakinan yang kuat, ia memilih menempuh perjalanan darat yang akan membawanya melintasi sejumlah negara di Asia hingga Timur Tengah.

Perjalanan yang dijalaninya bukan sekadar petualangan biasa. Di balik setiap kayuhan pedal yang ia lakukan, tersimpan sebuah cita-cita luhur untuk membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang bagi seseorang untuk terus berkarya, bermimpi, dan menginspirasi banyak orang.

Saat keberangkatannya dari Garut, Asep mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak. Ia dilepas secara resmi oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Garut bersama Bupati Garut.

Momen tersebut menjadi simbol dukungan masyarakat terhadap perjuangan seorang warga yang berani mengejar impiannya dengan cara yang tidak biasa.

Bahkan rekan-rekan dari Komunitas Sancang Jaya SGM Garut turut mengawal perjalanan awalnya hingga Kota Bandung sebagai bentuk solidaritas dan dukungan moral terhadap misi besar yang tengah dijalankannya.

Menariknya, seluruh perjalanan tersebut sebagian besar dibiayai menggunakan dana pribadi.

Selain itu, sejumlah sahabat dan rekan komunitas turut memberikan bantuan secara sukarela untuk mendukung kelancaran perjalanan yang diperkirakan akan berlangsung selama tiga hingga empat bulan tersebut.

Namun bagi Asep, tujuan perjalanannya tidak hanya untuk mencapai Mekah semata. Ada pesan kemanusiaan yang ingin ia bawa sepanjang perjalanan lintas negara tersebut.

Ia meyakini bahwa sepeda merupakan alat pemersatu yang mampu membuka ruang persahabatan tanpa mengenal batas wilayah, bahasa, maupun budaya. Karena itulah, perjalanan ini juga menjadi misi persaudaraan yang ingin ia sebarkan kepada masyarakat dunia.

“Sepeda bisa menyatukan banyak orang. Saya ingin mencari saudara baru, mengenal budaya baru, dan menunjukkan bahwa persahabatan bisa terjalin di mana saja,” ungkap Asep.

Rute yang akan dilaluinya pun terbilang sangat menantang. Asep berencana melintasi sedikitnya 10 negara, mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam, China, Nepal, India, Qatar, hingga Arab Saudi.

Setiap negara memiliki karakter geografis, budaya, serta tantangan perjalanan yang berbeda-beda.
Mulai dari cuaca ekstrem, medan yang berat, perbedaan bahasa, hingga kondisi fisik yang harus tetap prima selama perjalanan menjadi tantangan nyata yang harus dihadapinya setiap hari.

Meski demikian, semangat pria yang sebentar lagi menginjak usia 64 tahun tersebut terlihat begitu kuat.

Wajahnya memancarkan optimisme dan keyakinan bahwa perjalanan panjang itu akan mampu ia tuntaskan hingga mencapai Kota Madinah dan Masjidil Haram di Mekah, dua tempat yang selama ini menjadi tujuan utama dalam misi spiritualnya.

Di sela-sela persinggahannya di Cianjur, Asep menyampaikan harapannya kepada masyarakat Indonesia agar turut memberikan doa dan dukungan untuk keselamatan perjalanannya.

“Saya mohon doa dari masyarakat Cianjur dan seluruh Indonesia. Semoga saya selalu diberikan kesehatan, keselamatan, kekuatan, dan kelancaran dalam perjalanan ini hingga sampai ke Mekah dan kembali lagi ke tanah air dengan selamat,” ujarnya penuh harap.

Kisah perjalanan Asep Akung bukan hanya tentang seorang pesepeda yang ingin mencapai Mekah. Lebih dari itu, kisah ini menjadi cerminan tentang keberanian mengejar mimpi, keteguhan memegang keyakinan, serta semangat pantang menyerah yang tidak pernah lekang oleh usia.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh keterbatasan waktu, Asep hadir membawa pesan sederhana namun sangat mendalam: bahwa selama seseorang masih memiliki tekad, harapan, dan keyakinan, tidak ada kata terlambat untuk mewujudkan impian.

Perjalanan ribuan kilometer yang kini tengah ditempuhnya menjadi bukti nyata bahwa batas terbesar dalam hidup sering kali bukanlah usia, melainkan keraguan dalam diri sendiri.

Dan melalui setiap kayuhan sepedanya, Asep Akung sedang menunjukkan kepada dunia bahwa mimpi yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh selalu memiliki jalan untuk diwujudkan.

Ben

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *