Dari Anak Jalanan ke Penggerak Sosial, Septa Ahmad Dani Siap Pimpin Karang Taruna Hegarmanah

Cianjur // posbidikberita.id-Latar belakang kehidupan yang penuh perjuangan tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk terus melangkah dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Semangat itulah yang kini ditunjukkan Septa Ahmad Dani (35), sosok pemuda yang pernah menjalani kehidupan sebagai anak jalanan dan kini menyatakan kesiapannya untuk mengemban amanah sebagai Ketua Karang Taruna Desa Hegarmanah, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur.

Munculnya kekosongan kursi Ketua Karang Taruna Desa Hegarmanah menjadi momentum bagi lahirnya gagasan dan harapan baru dalam tubuh organisasi kepemudaan tersebut.

Di tengah kebutuhan akan figur yang mampu merangkul serta menggerakkan potensi generasi muda, nama Septa Ahmad Dani mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat dan pemuda setempat.

Dengan berbekal pengalaman hidup yang ditempa oleh berbagai tantangan, Septa hadir membawa semangat perubahan yang berorientasi pada kepedulian sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Baginya, organisasi kepemudaan bukan hanya sekadar wadah berkumpul para pemuda, melainkan harus mampu menjadi kekuatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

“Walaupun saya mantan anak jalanan, insyaallah saya siap mengemban amanah apabila mendapat dukungan dari anggota dan masyarakat. Saya ingin Karang Taruna menjadi organisasi yang benar-benar hadir untuk masyarakat dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan,” ujar Septa, Senin (8/6/2026).

Pernyataan tersebut bukan sekadar ungkapan kesiapan untuk maju mengisi posisi yang kosong. Di balik itu, tersimpan sebuah visi yang lahir dari pengalaman hidup serta kedekatannya dengan berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Septa menilai bahwa Karang Taruna memiliki peran strategis sebagai jembatan antara kebutuhan warga dengan berbagai sumber daya yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan di tengah masyarakat.

Menurutnya, konsep kontrol sosial yang selama ini sering dipahami sebatas fungsi pengawasan perlu dimaknai secara lebih luas. Kontrol sosial, kata dia, harus berjalan beriringan dengan aksi nyata yang berorientasi pada kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.

“Kontrol sosial bukan hanya mengontrol keadaan di lapangan, tetapi harus ada sisi sosialnya. Ketika ada masyarakat yang mengalami kesulitan, Karang Taruna harus hadir memberikan solusi dan pendampingan. Itulah esensi keberadaan organisasi kepemudaan yang sesungguhnya,” ungkapnya.

Septa menilai, tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini semakin kompleks. Tidak sedikit warga yang membutuhkan bantuan informasi, pendampingan administrasi, hingga akses terhadap berbagai layanan publik.

Dalam kondisi seperti itu, Karang Taruna memiliki ruang yang sangat besar untuk berkontribusi dan menjadi bagian dari solusi.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah masih adanya masyarakat yang mengalami kesulitan saat membutuhkan layanan kesehatan.

Menurutnya, banyak warga yang merasa kebingungan ketika hendak berobat karena kepesertaan BPJS Kesehatan mereka tidak aktif atau terkendala persoalan administrasi.

Ia berpandangan bahwa Karang Taruna tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap kondisi tersebut. Organisasi kepemudaan harus mampu mengambil peran sebagai fasilitator yang membantu masyarakat memperoleh informasi dan pendampingan yang dibutuhkan.

“Kita harus membantu memberikan informasi dan pendampingan kepada masyarakat yang ingin berobat tetapi BPJS-nya tidak aktif. Jangan sampai warga merasa sendirian ketika menghadapi persoalan yang sebenarnya bisa dibantu melalui informasi dan komunikasi yang baik,” katanya.

Bagi Septa, keberadaan Karang Taruna harus mampu menghadirkan rasa aman dan kepastian bagi masyarakat. Ketika ada warga yang mengalami kesulitan ekonomi, persoalan kesehatan, masalah pendidikan, maupun kebutuhan sosial lainnya, Karang Taruna harus menjadi organisasi yang responsif dan sigap memberikan bantuan sesuai kapasitas yang dimiliki.

Lebih jauh, ia juga memiliki keinginan untuk memperkuat peran pemuda sebagai agen perubahan di tingkat desa. Menurutnya, generasi muda memiliki energi, kreativitas, serta potensi besar yang harus diarahkan ke kegiatan-kegiatan produktif dan bermanfaat.

Karang Taruna, lanjut Septa, harus menjadi rumah bersama bagi para pemuda untuk mengembangkan kemampuan, membangun solidaritas, serta menciptakan berbagai program yang berdampak positif bagi masyarakat.

Dengan keterlibatan aktif pemuda, berbagai persoalan sosial diyakini dapat dihadapi secara lebih efektif melalui pendekatan yang inovatif dan kolaboratif.

Selain program sosial, ia juga mendorong lahirnya kegiatan pemberdayaan pemuda yang mampu meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi.

Menurutnya, organisasi kepemudaan harus menjadi motor penggerak yang mampu membuka ruang kreativitas sekaligus memberikan peluang bagi generasi muda untuk berkembang.

“Pemuda harus menjadi bagian dari solusi. Karang Taruna tidak boleh hanya aktif saat ada kegiatan seremonial atau peringatan hari besar saja, tetapi harus hadir dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ketika warga membutuhkan bantuan, ketika ada persoalan yang harus dicarikan jalan keluar, di situlah Karang Taruna harus mengambil peran,” tegasnya.

Perjalanan hidup yang pernah dijalani sebagai anak jalanan justru menjadi modal berharga bagi Septa dalam memahami berbagai dinamika sosial yang terjadi di masyarakat.

Pengalaman tersebut membentuk karakter yang tangguh, peduli, serta memiliki empati terhadap kondisi warga yang sedang menghadapi kesulitan.

Di tengah harapan masyarakat akan hadirnya organisasi kepemudaan yang lebih aktif dan progresif, sosok Septa Ahmad Dani membawa semangat perubahan yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan gotong royong.

Ia ingin membuktikan bahwa masa lalu bukanlah penghalang untuk berbuat kebaikan, melainkan dapat menjadi inspirasi untuk terus bergerak membantu sesama.
Dengan visi membangun Karang Taruna yang aktif, responsif, dan berorientasi pada pelayanan sosial, Septa berharap dapat memperoleh kepercayaan dari anggota maupun masyarakat Desa Hegarmanah.

Baginya, jabatan bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk mengabdikan diri dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Karang Taruna harus menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat. Organisasi ini harus hadir sebagai mitra warga, menjadi tempat berbagi solusi, menumbuhkan kepedulian, dan memperkuat semangat kebersamaan. Jika pemuda bergerak bersama, maka perubahan positif untuk desa akan lebih mudah diwujudkan,”tutupnya.

Ben

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *